Tafsiran warisan kitab seni urut terapi sifuli

tafsiran warisan kitab seni urut

Dalasm budaya kehidupan orang Melayu ugama Islam adalah pegangan kehidupan yang diwarisi turun temurun untuk membina kesihatan dan menyembuh penyakit rohani, jasmani, jiwa dan raga. Oleh itu Ugama Islam adalah telah menjadi terapi kesihatan tradisional orang Melayu untuk mencegah penyakit rohani dan jasmani yang telah diwarisi turun temurun berpandukan Al Quran dan sunah Nabi Muhammad saw.

Allah swt berfirman: “ Apakah selain agama Allah (Islam) yang mereka inginkan, padahal hanya kepada Allah-lah berserah diri segala apa yang ada di langit dan di bumi baik dengan tunduk (taat) maupun dipaksa dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan.” (Ali Imran: 83). “Dan siapa yang menginginkan selain Islam sebagai agamanya maka tidak akan diterima darinya agama tersebut dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85).

Agama yang haq ini telah disempurnakan oleh Allah swt dalam segala segi, segala yang diperlukan hamba untuk kehidupan dunia dan akhirat ia itu kehidupan rohani dan jasmaninya, telah dijelaskan sehingga tidak luput satu perkataan melainkan Islam telah mengaturkannya.

Allah swt berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Ku sempurnakan nikmat-Ku bagi kalian dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.” (Al Maidah: 3)

Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya berkata: “Ini merupakan nikmat Allah yang terbesar bagi ummat ini, dimana Allah swt telah menyempurnakan bagi mereka agama mereka sehingga mereka tidak perlu kepada selain agama Islam dan tidak perlu kepada Nabi selain Nabi saw. Karana itulah Allah swt menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai penutup para Nabi dan Allah mengutusnya untuk kalangan manusia dan jin, maka tidak ada perkara yang haram kecuali apa yang dia haramkan, dan tidak ada agama kecuali apa yang dia syariatkan. Segala sesuatu yang dia kabarkan adalah kebenaran dan kejujuran tidak ada kedustaan padanya dan tidak ada hal yang bertentangan.” (Tafsir Al Qur`anul Azhim 3/14. Dar Al Ma’rifat).

Dengan kesempurnaan yang dimiliki, syariat Islam tidak lagi memerlukan penambahan, pengurangan, ataupun perubahan, atau lebih rengkasnya hal-hal ini diistilahkan bid’ah dalam agama yang telah diperingatkan dengan keras oleh Rasulullah saw dalam sabda beliau: “Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah ucapan Allah swt dan sebaik-baik ajaran adalah ajaran Rasulullah saw. Dan sesungguhnya sejelek jelek perkara adalah sesuatu yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya sesuatu yang baru diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Muslim no. 867)

Hukum membuat bid’ah dalam agama adalah haram berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah, dan ijmak (kesepakatan ulama), karena membuat bid’ah berarti menetapkan syariat yang menyaingi syariat Allah, yang berarti menentang dan mengadakan permusuhan terhadap Allah dan RasulNya. (Hurmatul Ibtida’ fid Dien wa Kullu Bid’atin Dlalalah, Abu Bakar Jabir Al Jazairi, halaman 8)

Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah w. Aisyah menjawab, “Akhlak Nabi Muhammad saw adalah Alquran.” (HR Muslim).

Sungguh pun jawapan Aisyah ini singkat, namun sarat dengan makna. Beliau menyifati Rasulullah saw dengan satu sifat yang dapat mewakili seluruh sifat yang ada. Memang tepat, akhlak Nabi Muhammad saw adalah Al Quran. Allah swt berfirman, ” Al Quran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus ” (QS. Al-Israa’: 9).

Firman Allah swt lagi dalam surah yang lain juga bermaksud ” (Yang) memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus…” (QS. Al-Jinn: 2).

Akhlak beliau adalah Alquran, kitab suci umat yang disifati dengan firman Allah, “tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 2)

Sifat Rasulullah saw adalah menjadi ikutan para sahabat baginda selain daripada hadis dan sunahnya Sifat Rasulullah saw yang perlu diikuti umatnya adalah sidiq, amanah, tabliq dan fathonah.

Sebagai orang yang mengaku beragam Islam dan beriman wajib atas kita berpegang teguh pada Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Karena hanya dua hal tersebut yang diwariskan Nabi Muhammad saw kepada kita semua sebagai umat Islam agar tidak mengalami kesesatan iaitu Al Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw.

Sabda Rasulullah saw: “Aku meninggalkan kalian dua hal. Jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, maka kalian tidak akan pernah sesat, yaitu Kitab Allah dan Sunnah NabiNya” (Hadits Riwayat Malik)

Sabda Rasulullah saw maksudnya: ” Sesungguhnya ulama ialah pewaris para nabi-nabi, mereka tidak sekali-kali mewarisi dinar dan dirham, akan tetapi mereka mewarisi ilmu pengetahuan, sesiapa yang mengambilnya, nescaya mendapat keuntungan yang berlipat kali ganda “(Riwayat Abu Dawud dan Tirmizi).

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya Allah swt telah berfirman : ‘Barang siapa memusuhi waliKu, maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya. HambaKu senantiasa (bertaqarrub) mendekatkan diri kepadaKu dengan suatu (perbuatan) yang Aku sukai seperti bila ia melakukan yang fardhu yang Aku perintahkan kepadanya. HambaKu senantiasa (bertaqarrub) mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka jadilah Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, sebagai tangannya yang ia gunakan untuk memegang, sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti akan Aku berikan kepadanya.“ [Bukhari no. 6502]

Pengarang Kitab Al-Ifshah berkata : “Hadits ini mengandung pengertian bahwa Allah swt menyampaikan ancaman kepada setiap orang yang memusuhi waliNya. Allah swt mengumumkan bahwa Dialah yang memerangi orang yang menjadi waliNya. Wali Allah swt iaitu orang yang mengikuti syari’atNya, oleh karena itu hendaklah manusia takut untuk berbuat menyakiti hati wali-wali Allah swt. Memusuhi di sini berarti menjadikan wali Allah sebagai musuh, iaitu memusuhi seseorang karena dia menjadi wali Allah swt. Adapun jika terjadi perselisihan antara wali Allah swt karena memperebutkan hak, maka hal semacam ini tidak termasuk dalam makna memusuhi yang dimaksud dalam hadits ini, sebab pernah terjadi perselisihan antara Abu Bakar dan Umar, Abbas dan Ali dan banyak lagi sahabat yang lain, padahal mereka semua adalah wali-wali Allah swt ”.

Kalimat, “HambaKu senantiasa (bertaqarrub) mendekatkan diri kepadaKu dengan suatu (perbuatan) yang Aku sukai seperti bila ia melakukan yang fardhu yang Aku perintahkan kepadanya” menyatakan bahwa yang sunnah tidak boleh didahulukan dari yang wajib. Suatu perbuatan sunnah mestinya dilakukan apabila yang wajib sudah dilakukan, dan tidak disebut menjalankan yang sunnah sebelum yang wajib dilakukan. Hal ini ditunjukkan oleh kalimat, “Hamba-Ku senantiasa (bertaqarrub) mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunah hingga Aku mencintainya” iaitu karena ia bertaqarrub dengan amalan yang sunnah yang mengiringi amalan yang wajib. Bila seorang hamba selalu , mendekatkan diri dengan amalan yang sunnah, maka hal itu akan menjadikannya orang yang dicintai Allah swt.

Kemudian kalimat, “Jika Aku telah mencintainya, maka jadilah Aku sebagai pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, sebagai penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, sebagai tangannya yang ia gunakan untuk memegang, sebagai kakinya yang ia gunakan untuk berjalan” Hal ini merupakan tanda kecintaan Allah swt terhadap orang yang dicintai-Nya, maksudnya orang itu tidak akan mau mendengar hal-hal yang dilarang oleh syari’at, tidak mau melihat hal-hal yang tidak dibenarkan oleh syari’at, tidak mau mengulurkan tangannya memegang sesuatu yang tidak dibenarkan oleh syari’at dan tidak mau melangkahkan kakinya kecuali hanya kepada hal-hal yang dibenarkan oleh syari’at.

Inilah pokok permasalahannya. Akan tetapi, seringkali ketika seseorang menyebut nama Allah swt hingga disebut sebagai ahli zikir, sampai ia tidak mau mendengar perkataan orang yang berbicara dengannya, kemudian orang yang bukan ahli zikir berusaha mendekat kepada orang yang ahli dzikir ini, karena ingin menjadikannya sebagai perantara, agar Allah swt mendengarkan permohonan mereka. Begitu pula dengan mubashirat (orang yang merasa dirinya boleh melihat Allah swt), mutanawilat (orang yang merasa dirinya mampu menjangkau Allah swt) dan mas’aa ilaih (orang yang merasa dirinya telah melangkah menuju Allah swt) Semuanya itu adalah sifat yang mulia. Kita memohon kepada Allah swt semoga kita termasuk kedalam golongan (yang dicintai Allah swt) ini.

Kalimat, “Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti akan Aku berikan kepadanya” menunjukkan bahwa seseorang yang telah menjadi golongan yang dicintai Allah swt, maka permohonan kepada Allah swt tidak akan terintangi dan Allah swt akan memberikan perlindungan kepadanya dari siapa saja yang menakutinya. Allah swt Maha Kuasa untuk memberikan sesuatu kepadanya sebelum ia memintanya dan memberi perlindungan sebelum ia memohon. Akan tetapi Allah swt senantiasa mendekat kepada hambaNya dengan memberi sesuatu kepada orang-orang yang meminta dan melindungi orang-orang yang meminta perlindungan. Kalimat pada awal hadits, “maka sesungguhnya Aku menyatakan perang terhadapnya” maksudnya Aku menyatakan kepada orang yang seperti itu bahwa dia telah memerangi Aku.

Seni terapi sifuli bermula dengan warisan urutan mencuci diri zahir dan batin untuk membina kesihatan dan menyembuh penyakit rohani dan jasmani. Allah swt berfirman yang bermaksud, “ Dan Allah mencintai orang-orang yang mebersihkan diri “ (Surah at-Taubah : 108).

Manusia yang hidup pasti memerlukan kebersihan diri. Manusia yang hidupnya kotor, tidak seorangpun yang ingin berkawan dengannya, atau menghampirinya, atau bermuamalah dengannya. Tegasnya, ia dibenci orang dan senantiasa dipandang sebagai orang yang menjijikkan di mata orang banyak, sehingga ia merasa dirinya terpencil dari mereka. Karena itulah, apabila badannya kotor atau pakaiannya terkena kotoran, ia akan segera membersihkannya atau menukarnya dengan yang lain.

Demikian yang dianjurkan oleh syari’at Islam supaya manusia senantiasa berada dalam keadaan bersih suci, baik secara lahir maupun batin. Tetapi yang selalu diutamakan dan menjadi perhatian manusia selama ini hanyalah yang tampak secara lahir, sedangkan yang ada di dalam batin sering kali dilalaikan dan dibiarkan tidak terurus. Karena itu, pembicaraan dalam bagian ini akan mencoba memberikan petunjuk ke arah tersebut.

Ada dua cara untuk membersihkan diri kita dari hal-hal yang dijauhi oleh agama :

1. Pembersihan diri yang zahir (jasmani) dengan menggunakan air mutlak (air suci yang mensucikan) sebagaimana yang diperintahkan oleh syariat Islam.

2. Pembersihan diri secara batin dan jiwa. Kita hendaknya sadar akan adanya kotoran dalam jiwa atau batin kita. Kotoran itu adalah dosa dan kesalahan kita sendiri. Cara menyucikannya adalah dengan bertaubat sebenar-benarnya taubat (taubatan nasuha). Cara menyucikan batin kita ialah dengan masuk atau menempuh suatu jalan ruhani yang dibimbing oleh guru.

Menurut hukum syariat, wudhu akan batal bila kita membuang air kecil atau membuang air besar, menyentuh kemaluan dengan telapak tangan atau jari, mabuk dan sebagainya. Setelah bersetubuh atau selepas haid dan nifas, diwajibkan pula kepada kita untuk mandi membersihkan hadas besar dari badan, yaitu dengan berwudhu dan mandi.

Mengenai wudhu, ada yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw pernah berkata, “Setiap kali seseorang memperbarui wudhunya, maka Allah akan memperbarui imannya pula, dan cahaya imannya akan berkilau seperti semula dan menjadi semakin terang,” atau yang sama maksudnya dengan hal ini. Apa yang dikatakan Nabi Muhammad saw itu sudah jelas karena bukankah wudhu itu juga menggugurkan kesalahan-kesalahan kecil, yang dilakukan oleh manusia, baik disengaja atau sebaliknya. Karena itu pula beliau pernah menyatakan lebih lanjut bahwa pembersihan, yakni wudhu dan mandi dari hadas itu apabila dilakukan berulang kali akan menjadi cahaya di atas cahaya, wallahua’lam. Karena itu, syariat Islam menganjurkan tajdid wal-wudu’ atau senantiasa memperbarui wudhu ketika akan melaksanakan ibadah shalat ataupun sesudah membuang hadas kecil.

Dalam mimpinya Nabi SAW pernah mendengar bunyi terompah sahabatnya, Bilal (mu’azzin beliau) di dalam surga. Kemudian beliau bertanya kepada Bilal, “Hai Bilal ! Apa yang engkau lakukan sehingga aku mendengar bunyi terompahmu di dalam surga ?” Bilal menjawab, “Hai Rasulullah! Tidak ada yang aku lakukan, selain sering memperbarui wudhuku setiap kali aku berhadas, dan kemudian aku bershalat sunnah al-wudu’ atau sunnah wudu’ selepas itu.”

Kini kita mengerti bahwa kebersihan diri amat penting bagi setiap muslim. Selain itu, manfaatnya sungguh besar bagi orang yang melakukannya, yang seharusnya tidak boleh kita abaikan.

1. Membersihkan Jiwa
Hakikat batin atau keadaan hati kita juga boleh tercemar, jika kita terus melalaikan diri kita dan tidak menjaga gerak-geriknya. Sebagaimana yang tampak pada jasad kita yang boleh saja menjadi kotor, demikian pula batin kita. Ia dapat dikotori oleh perangai dan perbuatan yang jahat, serta tindakan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Semua tingkah laku yang buruk akan membahayakan batin kita, termasuk sifat-sifat negatif, seperti sombong, takabur, dengki, bongkak, suka mengadu domba manusia, fitnah, marah, hasad, syirik, dan banyak lagi.

Jiwa juga boleh kotor karena memakan makanan haram, lisan yang mengeluarkan kata-kata cerca dan ungkapan-ungkapan yang menyakitkan hati, telinga yang suka mendengar fitnah dan mengumpat orang, tangan yang suka melakukan perbuatan jahat, kaki yang melangkah ke tempat maksiat atau mengikuti orang-orang yang zalim, kemaluan yang melakukan zina, dan sebagainya. Zina dalam hal ini berlaku umum, bukan hanya berlaku untuk kemaluan, tetapi dapat pula berlaku untuk mata, telinga, hidung, kaki dan tangan, dan lain sebagainya. Zina mata dilakukan dengan memandang yang terlarang, yakni yang haram, zina telinga dilakukan dengan mendengarkan hal-hal yang hina, zina hidung dilakukan dengan mencium, zina tangan dilakukan dengan memegang, dan zina kaki dilakukan dengan berjalan ke arah kemaksiatan.

2. Bila Kebersihan Batin Tercemar
Apabila kebersihan batin atau ruhani tercemar dan ‘wudhu keruhanian’ batal, maka penyucian diri perlu (wudhu’ atau mandi keruhanian) diperbarui dengan taubat, yaitu menyadari dosa yang telah dilakukan dengan penuh penyesalan hingga mengeluarkan air mata, dan dengan berazam dan bertekad tidak akan mengulangi kembali kesalahan atau dosa yang sama, serta memohon ampun dan berdo’a kepada Allah agar terhindar dari dosa itu.

Masalah ini tampaknya mudah, namun pada hakikatnya tidak demikian, taubatan nasuha yang harus dilakukan manusia itu mempunyai beberapa persyaratan yang jika tidak terpenuhi, tidak akan diterima taubat seseorang itu. Penyesalan adalah salah satu syarat taubatan nasuha. Tegasnya, bertaubat dengan lisan semata tanpa diikuti oleh hati dan perasaan menyesal, tidak akan berfaedah sama sekali. Malah hal itu bisa membawa manusia pada celaka dan dosa yang lebih besar. Oleh karena itu, hendaknya kita berhati-hati dalam bertaubat.

Hati terlebih dahulu harus dibersihkan dari segala yang mengganggu. Pengganggu hati yang pertama adalah tuntutan dalam diri terhadap kebendaan dan keinginan hawa nafsu yang selalu mencemarkan hati. Apabila hati telah bersih, niscaya manusia akan mencari jalan menuju kepada Allah. Ketika itu hatinya akan dipenuhi dengan takut kepada Allah, taqwanya akan terlihat dari segala gerak-geriknya, karena ketakutannya itu telah menariknya dekat kepada Allah. Kini ia akan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik saja. Apabila hatinya teringat pada perbuatan yang jahat, tentu sifat takutnya akan menghalangi dan mengingatkannya tentang balasan Allah. Dalam keadaan seperti inilah taubatnya akan terkesan dan kemudian menjadi taubatan nasuha.

Mukmin itu harus meninggalkan tabiat yang terdahulu dan bergerak ke arah Tuhannya. Selagi dia mengikuti jalan yang biasa, yakni jalan tabiatnya yang dahulu, niscaya dia akan terjerumus ke dalam pengaruh-pengaruh negatif yang akan mencelakakan dirinya. Dia akan kembali berbuat dosa dan kesalahan yang sudah biasa dilakukannya, karena tabiat sudah melekat pada dirinya. Dosa yang terus-menerus dilakukan itu melanggar perintah syariat, dan perintah syariat juga merupakan perintah Allah. Seandainya dia gagal menahan diri dari perbuatan buruk dan jahat itu, maka hendaknya dia memohon bantuan kepada Allah dengan jujur dan ikhlas agar Allah melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya sehingga dia dapat meninggalkan dosa dan maksiat itu. Semua perasaannya seharusnya ditujukan hanya kepada Allah semata, tidak kepada yang selain Dia.

3. Kesucian Syarat Utama Diterimanya Shalat
Shalat adalah menghadirkan diri di ‘hadapan’ Allah. Bersuci dan berada dalam keadaan suci merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan sebelum melaksanakan ibadah shalat. Orang yang bijaksana engetahui bahwa kebersihan secara zahir saja tidak cukup. Allah melihat jauh ke dalam hati (jiwa atau ruh) manusia. Dan hati perlu disucikan. Penyuciannya ialah dengan cara bertaubat. Hanya dalam keadaan suci, shalat yang kita lakukan akan diterima Allah.

Hukum ini adalah simbol yang digunakan oleh ahli tasawuf atau orang-orang Sufi. Apabila shalat itu dilakukan dengan hanya memenuhi syarat-syarat yang dikehendaki, maka dari segi hukum zahir, shalat itu sah dan benar. Tetapi dari segi hukum batin, shalat yang dilakukan itu masih menimbulkan tanda tanya lagi. Adakah shalat yang tidak disertai dengan kekhusyukan dan merendahkan diri dapat diterima sebagai ‘shalat’ ? Shalat yang dipenuhi dengan ingatan tentang sesuatu di luar shalat, misalnya khayalan yang mengganggu dan pikiran-pikiran tentang keduniaan, apakah itu bisa disebut shalat ? Padahal Nabi SAW mengingatkan bahwa dalam shalat kita harus khusyuk, merendahkan diri di hadapan Allah, menenangkan pikiran, memusatkan tujuan, dan sebagainya. Karena itu pula, ada sebagian ulama yang bersikap keras terhadap masalah ini dengan menghukumkan bahwa semua shalat yang tidak disertai kesedaran semua gerakan fisikal, tidak dapat dinamakan ‘shalat’. Dan bila tidak dinamakan shalat, maka shalat tidak dapat disebut sebagai shalat yang sesungguhnya.

Semua ini muncul dari banyaknya dosa dalam diri orang itu, banyaknya kesalahan yang tidak dipedulikannya, yakni dosa belum dihapus dan dibersihkan dengan cara bertaubat. Karena itu, dirinya kotor, dan bila diumpamakan ia seperti seseorang yang menghadap raja dengan pakaian kotor. Bagaimanakah orang itu nanti ?. Ingatlah, bahwa hal ini amatlah penting, yang tidak boleh dilalaikan secara terus-menerus. Segeralah kembali kepada Allah dan menyucikan diri dengan memperbanyak taubat yang sebenar-benarnya.

Allah swt berfirman : “Dan bertaubatlah (kembalilah) kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman sekalian, mudah-mudahan kamu akan beruntung !” (Q.S. An-Nur: 31)

Allah swt juga berfirman : “Inilah yang dijanjikan kepadamu, yaitu bagi setiap hamba yang selalu kembali bertaubat (bertaubat sebenarnya kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturannya)”. (Q.S. Qaaf : 32)

Penyucian badan dengan berwudhu dan mandi adalah perintah menurut syariat dan hukum agama Islam. Penyucian itu berkaitan dengan waktu. Misalnya, orang yang sudah bersuci, tetapi tiba-tiba ia tertidur, maka batallah wudhunya. Karena itu, ia harus berwudhu kembali. Jelasnya, pembersihan zahir ini terikat oleh waktu, malam dan siang, dalam kehidupan di dunia yang nyata ini. Contoh yang lain, orang yang merasakan badannya kotor atau pakaiannya terkena kotoran, maka wajarlah bila dia segera membersihkan badan dan pakaiannya itu. Dia tidak ingin tampak kotor di antara teman-temannya ataupun di antara orang-orang yang duduk bersama-samanya. Kemudian dia segera menyucikan diri.

Tetapi penyucian batin atau ruhani tidak terikat oleh waktu. Penyucian ini berlangsung sepanjang hidup di dunia hingga akhirat. Bila selama ini manusia merasakan betapa beratnya membersihkan badan dan pakaian mereka, pembersihan diri secara ruhani justru lebih berat lagi, karena kotoran batin lebih berbahaya daripada kotoran lahir. Kotoran lahir lebih bertumpu pada keadaan fisik atau jasmani manusia, sedangkan kotoran batin terfokus pada hubungan dengan Tuhan. Jika hati seseorang kotor, maka semua amalannya terhadap Tuhan akan terganggu dan tidak terkawal. Karena itu, wajar sekali bila dia harus memberikan perhatian khusus terhadap permasalahan ini agar dia selamat di dunia dan akhirat.

4. Pembersihan Diri Memerlukan Mujahadah terhadap Nafsu
Nafsu adalah pengeras utama terhadap jiwa dan hati. Jika kita terlalu mengikutkan kehendaknya, akhirnya kita akan binasa, karena sekali saja nafsu dapat mengalahkan kita, maka ia akan terus menuntut setiap waktu sehingga kita tidak berdaya lagi. Terlalu larut dalam hal-hal kenafsuan dan kebendaan dapat mengeraskan hati, melemahkan akal pikiran, menambah banyak tidur dan lalai, menimbulkan tabiat tamak dan serakah, serta menarik manusia kepada angan-angan yang kosong. Tabiat-tabiat ini ibarat penyakit yang kronis, yang apabila menimpa jiwa, maka kecelakaan akan menimpa diri kita. Kecelakaan itu tidak hanya menimpa kita di akhirat, tetapi juga di dunia.

Akan tetapi, apabila hati seseorang tenang dan tentram, hati itu akan dipenuhi dengan ilmu, di mana dengan ilmu itu ia akan mendapat Nur atau cahaya untuk menghapuskan segala maksiat dan dosa, sebagaimana dikatakan bahwa ‘Api neraka akan padam oleh cahaya orang Mu’min, ketika si Mu’min itu mendekati api neraka.’ Demikianlah perumpamaannya, mudah-mudahan kita mengerti. Para murid Nabi Isa as pernah memohon kepadanya dengan berkata, “Tolonglah ajarkan kepada kami ilmu yang tertinggi manfaatnya !” Nabi Isa as menjawab, “Takutlah kepada Allah, terimalah qadha’ dan taqdir-Nya dengan penuh ridha, dan cintailah Dia sepanjang masa.”

Itulah yang tertinggi martabatnya. Karena itu, balasannya juga sepadan, yaitu hidup kekal di dalam surga.

Adab murid yang harus diperhatikan terhadap gurunya

Adab murid yang harus diperhatikan terhadap gurunya sebenarnya banyak sekali, tetapi yang terutama dan yang terpenting ialah bahwa seorang murid tidak boleh sekali-kali menentang gurunya, sebaliknya harus membesarnya kedudukan gurunya itu lahir dan batin. Ia tidak boleh meremehkan, apabila mencemooh, mengecam gurunya di depan dan di belakang.

Salah satu yang harus ia yakini ialah bahwa maksudnya itu hanya akan tercapai karena didikan dan asuhan gurunya, oleh karena itu jika pandangan terpengaruh oleh pendapat guru-guru lain, maka yang demikian itu akan menjauhkan dia dari mursyidnya, dan tidak akan terlimpah atasnya percikan cahaya Ilahi. Oleh karena itu, seorang murid harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh hal tersebut dibawah ini:

1. Harus menyerahkan diri dan tunduk dengan sepenuhnya kepada gurunya, rela dengan segala apa yang diperbuat oleh gurunya, yang dikhidmatinya dengan harta benda dan jiwa raganya, dengan jalan demikian barulah terlahir iradah yang murni, dan muhibah, yang merupakan penggerak dalam usahanya, merupakan kebenaran dan keikhlasan yang tidak dapat dicapai kecuali dengan jalan demikian.

2. Tidak boleh sekali-kali seorang murid menentang atau menolak apa yang dikerjakan gurunya, meskipun pekerjaan itu pada lahirnya kelihatan termasuk haram. Ia tidak boleh bertanya apa sebab gurunya berbuat demikian, tidak boleh tergores dalam hatinya mengapa pekerjaannya belum berjaya. Barangsiapa yang ingin memperoleh ajaran dari gurunya dengan sempurna, ia tidak menolak suatu apapun juga dari padanya. Dari seorang guru kadang-kadang kelihatan lukisan yang tercela pada lahirnya tetapi kemudian kelihatan terpuji dalam batinnya, seperti yang terjadi dengan Nabi Musa as terhadap Nabi Khaidir as. Seorang sufi melukiskan kewajiban murid terhadap Syaikh-nya dalam sajak sebagai berikut:

Engkau laksana mayat terlentang
di depan gurumu terletak membentang
di cuci dibalik laksana batang
janganlah engkau berani menentang

Perintahnya jangan kau elakkan
meskipun haram seakan-akan
Tunduk dan taat diperintahkan
engkau pasti ia cintakan

Biarkan semua perbuatannya
meskipun berlainan dengan syara’-nya
Kebenaran nanti akan nyatanya
bagimu akan jelas rahasianya

Ingatlah cerita Khidir dan Musa
tentang pembunuhan anak desa
Musa seakan putus asa
pada akhirnya ia terasa

Pada akhirnya jelaslah sudah,
tampak padanya secara mudah
Kekuasaan Allah tidak tertadah
ilmu-Nya luas tidak termadah

3. Seorang murid tidak boleh mempunyai maksud berkumpul dengan Syaikh-nya untuk tujuan dunia dan akhirat, dengan tidak menegaskan dan menandaskan kehendak kesatuan yang sebenar-benarnya, baik mengenai ikhwal, maqam, fana, maupun baqa’ dalam keesaan Tuhan. Karena jika tidak demikian itu maka ia merupakan seorang murid yang hanya menuntut kesempurnaan dirinya dan ikhwalnya sendiri.

4. Seorang murid tidak boleh melepaskan ikhtiarnya sendiri dan ikhtiar Syaikh-nya dalam segala pekerjaan, baik merupakan keseluruhan atau bagian-bagian ibadah dan adat kebiasaan. Setengah dari tanda seorang murid yang benar, bahwa ia begitu taat kepada Syaikh-nya, sehingga kalau Syaikh memerintahkan ia masuk ke dalam nyalanya api, ia mesti memasukinya, jika ia masuk tidak terbakar, benarlah ia, jika terbakar ia pasti dusta. Murid tidak boleh mempergunjingkan keadaan Syaikh-nya, karena yang demikian itu merupakan pokok kebiasaan yang biasanya banyak terjadi. Sebaiknya ia harus berbaik sangka kepada gurunya dalam setiap keadaan.

5. Begitu juga murid harus memelihara adab pada Syaikh-nya pada waktu ia tidak ada, sebagaimana ia memelihara adab pada guru itu pada waktu ia hadir besama-sama, dengan demikian ia selalu mengingat Syaikh-nya pada tiap keadaan, baik dalam perjalanan maupun tidak dalam perjalanan, agar ia beroleh berkahnya.

6. Seorang murid harus menganggap tiap berkah yang diperolehnya, baik berkah dunia maupun akherat, disebabkan oleh berkah Syaikh-nya itu. Ia tidak boleh menyembunyikan kepada gurunya sesuatu yang terjadi pada dirinya sendiri mengenai ikhwal, kekhawatiran, kejadian yang menimpa atas dirinya, segala macam kasyaf dan keramat, yang dianugerahi Allah sewaktu-waktu kepadanya semua itu diceritakan dengan terus terang kepada gurunya, sebab ilmu itu tak akan sampai kepada murid tanpa melewati seorang guru. Meskipun demikian tidak boleh seorang murid menafsirkan sendiri segala kejadian itu, dalam mimpinya dan segala kasyaf yang terbuka kepadanya, apalagi memegangnya dengan keyakinan, sebaliknya ia kemukakan semua kepada Syaikh-nya itu sambil menantikan jawabannya dengan tidak usah menagih jawaban itu secara mendesak. Jika ada seorang Syaikh lain bertanya kepada seorang murid tentang suatu masalah janganlah menjawab dengan segera masalah itu di depan gurunya.

7. Tidak boleh menyiarkan rahasia-rahasia gurunya. Tidak boleh mengawini seorang wanita yang kelihatan disukai oleh Syaikh-nya dan hendak dinikahinya, begitu juga tidak boleh kawin dengan seorang perempuan mantan istri gurunya, baik yang ditinggalkan cerai maupun ditinggal mati.

8. Seorang murid tidak boleh hanya mengeluarkan nasehat atau pandangan kepada gurunya, jika gurunya mempercakapkan suatu pekerjaan yang hendak dikerjakan. Begitu juga tidak boleh meninggalkan pekerjaan yang sedang dihadapi gurunya itu. Sebaliknya ia menyerahkan seluruh pikiran kepada gurunya dan menganggap bahwa gurunya itu meminta nasehat kepadanya hanya ditimbulkan oleh kecintaan semata-mata.

9. Apabila Syaikh-nya tidak ada, ia mengunjungi keluarganya dan berbuat baik segala khidmad karena pekerjaan itu akan mengikat hati gurunya. Apabila seorang murid memandang dirinya dengan penuh ujub karena amalnya atau memandang telah meningkat lebih baik dalam ikhwalnya, maka segera hal itu diadukan kepada gurunya, agar guru memberikan petunjuk, bagaimana mengobati penyakitnya itu. Jika didiamkan perasaan itu nanti pasti akan tumbuh menjadi riya’ dan munafik dalam hatinya.

10. Murid tidak boleh memberikan atau menjual kepada orang lain apa yang dihadiahkan oleh gurunya, meskipun gurunya itu mengijinkan menyerahkan pemberian itu kepada orang lain. Karena di dalam pemberian guru itu tersembunyi sirr kefakiran yang dicari-cari dan yang akan mendekatkan ia kepada Allah. Diantara adab-adab murid dalam tarekat dan yang dianggap ikhwalnya terbaik ialah bahwa ia memberikan harta bendanya sebagai sedekah atas permintaan Syaikh-nya, karena menurut ajaran bahwa seorang murid dianggap sudah sempurna taat kepada Syaikh-nya, yang kemudian dapat membawa dia kepada Tuhannya. Jika ia berbuat yang demikian itu, dengan lain perkataan mengorbankan untuk sedekah apa yang dicintainya.

11. Murid yang baik tidaklah menganggap ada suatu kekurangan pada Syaikh-nya, meskipun ia melihat kekurangan itu terjadi dalam kehidupannya seperti banyak tidur pada malam hari, kurang wara’ dan lain-lain. Karena kekurangan yang demikian itu kadang-kadang memang ditafsirkan Allah kepada wali-walinya dalam kelupaan dan kealpaan yang tidak terdapat tatkala mereka sadar. Dan apabila ia sadar, maka kekurangan itu akan dipenuhinya kembali.

12. Harus diingat seorang murid itu tidak boleh memperbanyak bicara di depan Syaikh-nya. Harus diketahui waktu-waktu berbicara itu, jika ia berbicara hendaklah tegas dengan adab, khuyu’, dan khudu’, dengan tidak berlebihan dari apa yang perlu. Kemudian ia menanti jawabnya dengan tenang, jika belum puas hendaknya ia bertanya kedua kalinya, sesudah itu terbataslah pertanyaan itu.

Tidak boleh sekali-kali dihadapan guru seorang murid berbicara keras, karena bicara keras itu dihadapan orang-orang besar termasuk adab yang tidak baik. Ia tidak boleh duduk bersimpuh di depannya, tidak boleh duduk di atas sajadah, tetapi memilih tempat yang dapat menunjukkan adab merendah diri dan mengecilkan dirinya. Seterusnya ia berkhidmad kepada Syaikh-nya, kata sufi “khidmad pada suatu bangsa merupakan amal shaleh”.

Cepat kaki ringan tangan mengenai segala apa yang diperintahkan oleh gurunya, tidak istirahat dan berhenti sebelum pekerjaan itu selesai. Lain dari pada yang tersebut diatas itu seorang murid harus mengingat ia menjauhkan diri dari segala pekerjaan yang dibenci oleh Syaikh-nya. Tidak boleh bergaul dengan orang-orang yang dibenci Syaikh-nya tetapi mencintai orang yang dicintainya. Ia harus sabar jika Syaikh-nya belum memenuhi permintaannya dan tidak boleh menggerutu dan membandingkan dirinya dengan orang lain dalam pelayanan Syaikh-nya.

13. Tidak boleh duduk pada tempat yang disediakan bagi guru, tidak boleh enggan dan segan-segan terhadap segala pekerjaan, tidak boleh bepergian, tidak boleh kawin, tidak boleh mengerjakan suatu pekerjaan penting kecuali dengan ijinnya. Tidak boleh menyampaikan kepada orang lain pekerjaan Syaikh-nya kecuali yang dapat dipahami mereka itu sekedar kekuatan akalnya. Dan tidak menyampaikan salamnya melalui orang lain kepada Syaikh-nya, tetapi jika ada kesempatan menziarahinya sendiri.

About Sifuli

Bicara tentang makan minum, tidur baring, dan beranak pinak yang membina adat resam untuk kehidupan rohani, jasmani, jiwa dan raga. Diantara weblog Sifuli yang popular adalah seperti berikut: Dukun Asmara bicara tentang beranak pinak. Hipnotis Sifuli bicara tentang tidur baring. Jalan Akhirat bicara tentang adat resam (agama) Doa Ayat dan Zikir untuk rohani jasmani jiwa dan raga. Jika tak suka sekali pun janganlah tinggalkan komentar yang keterlaluan. Kerana segalanya adalah sekadar ilmu pengetahuan. Wasalam.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s